Harapan


Ada secercah harapan yang masih fana,
membias dari imaji yang hampir nyata.
Kuberharap pada senja,
agar ia tak hanya menyapa—tiba—tiada dengan sengaja.

Sejatinya pernah dia--yang dulu--melakukan itu padaku;
Secercah harapan seolah dihadirkan untukku.
Perlahan membiusku untuk selalu merindu.
Setelah itu ia pergi meninggalkanku,
dan hanya menitipkan harapan semu.

Kuberharap kini pada hadirmu; sosok baru.
Semoga aku tak lagi keliru,
membedakan mana yang nyata dan mana yang fana.
Sebab aku tak ingin kecewa,
untuk kedua kalinya.



~
Terkadang harapan adalah senjata yang bisa melukai diri sendiri.
Namun percayalah, berharap padamu menjadi ambisi tersendiri untukku pribadi. Seolah sosokmu adalah keistimewaan hidup yang mengacu semangat dan memudahkan segala sulitku. Semoga berharap padamu adalah kebenaran, agar segala yang masih kupendam dapat menjadi kenyataan.

Read More →

Inginku Melihatmu Bahagia

Berteman dengan lampu taman yang kuning meredup,
lagi-lagi aku mengingatmu sebagai kisah yang sempat hidup.
Terus-menerus pikiran tentangmu selalu menerorku,
menciptakan luka yang semakin lebam ketika rindu menghantamku.

Aku rindu dirimu yang di sana, apa kau sekarang baik-baik saja?
Setelah kau tiada, kini rasa nyeri semakin menyiksa.
Dan jujur saja, aku tak kuasa melihatmu merasakan hal yang sama.
Perihal kisah yang pernah ada, sudah biarkan saja.
Mudahnya...
lupakan saja kita, lantas ukirlah kisah bahagiamu dengannya.

Terima kasih kau pernah singgah.
Meski tak lama, setidaknya aku bahagia.



~
Terima kasih kekasihku di masa lalu. Karenamu kini aku belajar lebih baik cara menikmati rindu dan merelakan kepergianmu. Semoga lekas bahagia dengan pria pilihanmu.

Read More →

Pengagum Rahasia

Pagi ini aku terpaku melihat senyuman yang kau tampakkan dalam cerita media sosialmu.
Senyuman itu selaku lukisan di pameran seni,
betapa indahnya kupandangi tanpa ingin mengakhiri.
Dan juga garis senyum yang melengkung begitu simetri,
membuatku tergoda untuk selalu memiliki.

Ini bukan kali pertama aku melihat keindahan yang hakiki,
kamu telah menunjukkan beberapa gaya yang kusimpan rapi dalam galeri.
Juga bukan kali kedua aku rasakan jatuh hati,
bahkan kamu telah membuatku jatuh berkali-kali.

Untuk selama ini, maaf.
Aku hanya pengagum rahasiamu,
yang berharap pada semesta agar duniaku semakin indah.
Dari senyuman yang kulihat setiap pagi tanpa jeda,
dari harapan yang selalu kuucap lewat doa,
juga dari setiap tulisan yang kubuat agar kau baca.

Sebenarnya aku tak ingin menjadi pengagum rahasia,
namun nyatanya bibirku tak mampu menyampaikan cinta.
Dan kini pintaku hanya satu;
melihatmu selalu ceria, terlebih kita bisa bersama dan bahagia.



~
Sudah lama aku menyukaimu, terlebih kau menjadikan aku sebagai pengagum rahasiamu hingga saat ini. Terdengar lucu memang, ketika aku tak memiliki nyali untuk menyatakan perasaanku. Dan kini inginku hanya satu; kau membaca tulisanku ini, lalu mengerti bagaimana perasaanku kepadamu.

Read More →

 

Copyright © Ruang Jenuh Kypuh | Powered by Blogger | Template by 54BLOGGER | Fixed by Free Blogger Templates