Pagi ini aku terpaku melihat senyuman yang kau tampakkan dalam
cerita media sosialmu.
Senyuman itu selaku lukisan di pameran seni,
betapa indahnya kupandangi tanpa ingin mengakhiri.
Dan juga garis senyum yang melengkung begitu simetri,
membuatku tergoda untuk selalu memiliki.
Ini bukan kali pertama aku melihat keindahan yang hakiki,
kamu telah menunjukkan beberapa gaya yang kusimpan rapi dalam
galeri.
Juga bukan kali kedua aku rasakan jatuh hati,
bahkan kamu telah membuatku jatuh berkali-kali.
Untuk selama ini, maaf.
Aku hanya pengagum rahasiamu,
yang berharap pada semesta agar duniaku semakin indah.
Dari senyuman yang kulihat setiap pagi tanpa jeda,
dari harapan yang selalu kuucap lewat doa,
juga dari setiap tulisan yang kubuat agar kau baca.
Sebenarnya aku tak ingin menjadi pengagum
rahasia,
namun nyatanya bibirku tak mampu menyampaikan cinta.
Dan kini pintaku
hanya satu;
melihatmu selalu ceria, terlebih kita bisa bersama dan bahagia.
~
Sudah lama aku menyukaimu, terlebih kau menjadikan aku sebagai pengagum rahasiamu hingga saat ini. Terdengar lucu memang, ketika aku tak memiliki nyali untuk menyatakan perasaanku. Dan kini inginku hanya satu; kau membaca tulisanku ini, lalu mengerti bagaimana perasaanku kepadamu.





Posting Komentar